#SemangatQuran tak Sekadar Yel-yel

Demikian pesan seorang teman, ustadz Usman saat mengingatkan rekan-rekannya di tempat kami bekerja, Sygma.

Hal ini berkaitan dengan bergulirnya lomba dan kontes yang mengusung tema, #SemangatQuran.

Dengan #SemangatQuran, besar kesempatan bagi pengguna Twitter dan Facebook untuk berpartisipasi.

Masih banyak kesempatan hingga bulan Maret untuk siapa saja yang berminat untuk mengikuti.

Cara mengikutinya mudah banget! Follow saja @Syaamil_Alquran di Twitter dan Fanpage-nya di Facebook.

Untuk tahap awal, pengguna twitter masih bersama-sama mengusung #SemangatQuran sesering mungkin untuk di-mention. Setelah itu, juri akan menilai – ada sejumlah uang yang bisa didapatkan, lebih dari lumayan, lah :)

Sementara bagi pengguna Fb, peserta cukup mengunggah foto di halaman fanpage #SemangatQuran dengan memegang satu dari beberapa Alquran produksi Syaamilqur’an. Setelah terunggah, peserta wajib mengumpulkan like sebanyak-banyaknya. Mudah bukan?

image

Dan ada banyak peserta yang sudah mengunggahnya di fanpage #SemangatQuran.

Alhamdulillah, pekan ini saya memenangkan lomba tweet khusus internal karyawan dan ada juga dari kategori umum namun belum diumumkan. Ayo, segeralah bergabung!

Sekali lagi mengutip ujaran seorang teman, ” #SemangatQuran tak Sekadar Yel-yel” namun senantiasa diimplementasikan dalam keseharian, insya Allah. 

Dulu Bermain Gelang Kini Bermain Google

Saya masih ingat masa kecil, dulu permainan itu tergantung musimnya. Kadangkala musim bermain kelereng, berganti musim dengan bermain gambar dan sebagainya. Tidak ada yang namanya internet sebagai sarana untuk bermain-main bagi anak-anak jadul.

Sangat jauh berbeda dengan cara anak-anak jaman sekarang dalam hal pola bermain-main. Tadi pagi, istriku bercerita sebelum saya berangkat kerja. Kemarin, sore-sore si Salma ditanya oleh teman sebayanya, Salwa. “Eh, Salma… Tadi main apa saja?” tanyanya Salwa. Kemudian Salma menjawab, “oh tadi aku bermain Gugel, kalau kamu? Salma balik bertanya. “Aku juga sama… bermain gugel, kok.” Jawab Salwa seraya takmau kalah.

Mendengar cerita tersebut saya merasa lucu dan disadarkan. Sambil menjalankan laju sepeda motor, pikiranku masih seputar kejadian si Salma bermain Google. Kemudian, jadi ingat semalam. Di kamar saat saya buka-buka email, Salma mendekat dan bertanya, “Pap… Aku punya teman di kelas pinter punya Fesbuk, pinter loh main Fesbuknya tapi kalau pelajaran nggak pinter… Salma mau punya fesbuk, ya?”

“Papa mau tanya, mending pinter pelajaran atau pinter fesbukan?” saya malah balik bertanya.
“Pinter pelajaran!” Salma menjawab sigap.
“Ya udah… Nggak usah punya fesbuk kalau begitu. Nanti juga Salma akan bisa sendiri kok bagaimana cara membuat Fesbuk…”

Dari cerita-cerita di atas, saya perlu mengakui, betapa kurangnya saya memberikan pengertian seputar dunia internet kepada anak-anak di rumah. Masalahnya saya tidak merasa perlu untuk menyosialisasikan hal tersebut. Selalu berpikir, “ah nanti pun akan bisa dengan sendirinya…”

Takpernah terlintas bahwa anak-anak setingkat kelas 4 SD sudah mengenal social media. Sehingga —sebenarnya—saat mendengar Salma bercerita tentang temannya yang sudah memiliki akun Facebook sedikit terhenyak sih… Baru sadar, Salma selama ini memendam keinginan untuk memiliki akun FB. Hanya karena Salma takpernah merengek untuk memiliki akun FB ya jadi terpendam saja hasratnya dalam hati. Belum lagi cerita tentang temannya ada yang suka tuiteran. Ah, takhanya Facebook, Twitter pun disebut-sebutnya :)

Tadi saat setengah perjalanan jadi memiliki rencana, ke depan selain memperkenalkan game semisal Angry Bird, saya pun akan mengenalkan apa dan bagaimana menggunakan FB. Namun, batin masih saja berperang antara mengenalkan atau jangan. Sebab, kuatir akan muncul sindrom pada diri si anak serupa ketagihan… seperti bapaknya dulu :P
Tidak saya kenalkan pun terbukti berdasarkan cerita di atas. Si Salma mengatakan istilah “Bermain Gugel” betul-betul alami meluncur dari mulutnya. Bukan lantaran Salma baca-baca lantas menemukan jargon “Bermain Google” lalu disampaikan pada temannya.

Salma yang ingin punya akun Facebook itu ...

Oia, saat Salma bermain google, yang dicarinya pada mesin telusur adalah keyword SM*SH, 7 ICON, dan beberapa nama yang tidak saya kuasai terkait hal-hal yang berbau Korea…. Hmmm, kalau dulu anak-anak itu bermain gelang eh anak-anak sekarang malah bermain google :) []

Upaya “By Pass” Pengguna Facebook dan Twitter yang Diblokir di Mesir

 

Hosni Mubarak 2003

Image via Wikipedia

Jaringan Internet di Mesir mengalami gangguan parah, disebabkan sebuah gerakan protes yang mengakar-rumput dengan adanya demonstrasi besar menuntut pengusiran Presiden Hosni Mubarak setelah hampir 30 tahun berkuasa. Anehnya, stasiun-stasiun televisi milik pemerintah di Mesir tidak menyiarkan demo besar-besaran ini.

Otomatis trafik drastis merosot, baik pengguna Facebook atau Twitter. Lantas apa hubungannya jejaring sosial di Mesir hingga diblokir seperti itu? Karena memang banyak sekali user yang berorasi dan melakukan protes via dua jejaring sosial itu. Semua itu terinspirasi dari pemerintahan Tunisia yang berhasil digulingkan melalui revolusi berdarah beberapa waktu kemarin.

 

Image representing TweetDeck as depicted in Cr...

Image via CrunchBase

Pemerintah Mesir memang memiliki departemen khusus yang mengawasi pergerakan di internet. Di Mesir warga sipil ekstra hati-hati membuka situs internet. Semua informasi ‘dimonitor’ oleh pemerintah. Memang terdapat polisi khusus yang memantau dunia maya. Telah banyak rakyat Mesir yang ditangkap oleh polisi gara-gara menulis yang tidak-tidak tentang pemerintah di internet, terutama Facebook.

Nah…. Lantas bagaimana upaya yang dilakukan para netter melakukan “by pass” alias bebas hambatan, bisa terus melakukan aktifitas nge-net padahal jelas2 pemerintah telah ‘membunuhnya’?

Ternyata para users ‘bermain cantik’ dan cerdas. Mereka membuka pemblokiran melalui server proxy dan aplikasi pihak ketiga atau third-party apps.

Berikut cara mereka melakukannya…

1)   Menggunakan smartphone, semisal Blackberry dengan UberTwitter warga sipil masih bisa ber-social network.

2)   Menggunakan third-party applications, semisal TweetDeck dan HootSuite. Mereka yang diblokir masih bisa update status dengan kedua aplikasi pihak ketiga tersebut.

Namun pengguna HootSuite baru jangan harap bisa menggunakannya karena harus melakukan otentikasi via twitter.com yang jelas sekali terblokir. Lain halnya dengan pengguna iPhone, karena tidak memerlukan sebuah otentikasi web. Pengguna baru HootSuite dengan iPhone bisa dengan mudah masuk twitter.com.

Hmmm, sudah mirip Om Roy Suryo belum penjelasan saya :mrgreen: []

#hashtag #tweep #hoax

World of Tweet, sebuah situs Web yang mencatat data statistik dan sejarah tentang Twitter dan segala aspeknya, mengatakan Indonesia adalah penduduk terbesar ketiga pengguna Twitter di dunia setelah Amerika Serikat dan Brasil. Pengguna Twitter Indonesia seringkali mendominasi trending topic. Beberapa minggu yang lalu, timnas dan Irfan Bachdim (striker) juga menjadi tren topik. Waktu-waktu sebelumnya juga…sebut saja, ketika video seks ‘yang mirip Ariel’ alias Nazriel Irham, melibatkan aktris Luna Maya dan Cut Tari menyeruak di ranah maya pada bulan Juni, sontak pengguna Twitter di seluruh dunia mengetahui berita ini dengan kemunculan hashtag #arielpeterporn bahkan menduduki tren topik nomor satu. Kemudian, peristiwa pasca tsunami tanggal 25 Oktober yang lalu, mensinyalir ada lebih dari 500 jiwa tinggal di pulau Mentawai di lepas pantai Sumatera, sehingga melahirkan hashtag #prayforindonesia sebagai tren topik.

Lanjut membaca